Penerapan Teknologi IMTA

Posted on 22 Aug 2017


Pengelolaan ekstensif tambak untuk budidaya bandeng dan rumput laut Gracilaria sp. merupakan praktek yang umum dijumpai di berbagai wilayah pesisir. Meskipun demikian, metode budidaya ekstensif cenderung menghasilkan produktivitas dan nilai ekonomi yang rendah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pengembangan budidaya terpadu (polikultur) berbasis Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA). Prinsip dari teknologi IMTA adalah memelihara beberapa komoditas dalam suatu sistem budidaya dengan memperhatikan tingkat trofik (Chopin et al., 2004; Chopin, 2006; Chopin et al., 2008). Penerapan teknologi budidaya terpadu berbasis IMTA telah dirintis oleh Balai Bio Industri Laut (BBIL), Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI dengan menggabungkan komoditas teripang pasir, bandeng dan rumput laut Gracilaria sp. (TERBARU) dalam sistem budidaya tambak (Firdaus et al., 2016). Teknologi budidaya teripang pasir telah diteliti dan dikembangkan sejak tahun 2011 oleh BBIL, mencakup teknik pembenihan dan pembesaran. Meskipun teknologi tersebut telah dianggap siap, proses alih teknologi menghadapi kendala terutama karena teripang pasir tergolong komoditas baru bagi pembudidaya. Pengembangan teknologi budididaya IMTA merupakan jembatan dalam proses alih teknologi budidaya teripang mengingat pembudidaya umumnya telah menguasai teknologi budidaya bandeng dan rumput laut. Teknologi ini sekaligus merupakan inovasi dalam peningkatan produktivitas dan nilai ekonomi lahan tambak yang dikelola secara ekstensif. Pemasyarakatan teknologi budidaya TERBARU merupakan salah satu solusi dalam mengurai ketertinggalan pembangunan wilayah dan masyarakat kawasan pesisir. Budidaya terpadu “TERBARU” dilaksanakan dengan mempertimbangkan posisi masing-masing biota dalam ekosistem budidaya (Tabel 1). Rumput laut Gracilaria sp. berperan sebagai produsen yang menyerap nutrisi yang berasal dari perairan, pupuk, dan sisa metabolisme biota dalam tambak kemudian mengkonversinya menjadi biomassa melalui proses fotosintesis (Yang et al., 2015). Bandeng berperan sebagai konsumen (filter feeder) yang memakan partikel tersuspensi, fitoplankton, dan klekap (Watanabe et al., 2015). Teripang berperan sebagai pemakan detritus yang memanfaatkan bahan organik dalam tambak (Namukose et al., 2016) Melalui metode ini, daur nutrisi dalam sistem budidaya menjadi lebih efisien (Gambar 1), karena biaya pakan dan pengelolaan kualitas air dapat ditekan secara optimal yang akhirnya berdampak pada penurunan biaya produksi. Selain lebih ramah lingkungan, budidaya IMTA “TERBARU” juga memiliki produktivitas dan nilai ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan budidaya masing-masing komoditas secara monokultur. Introduksi teripang pasir sebagai komoditas baru dalam budidaya, secara langsung meningkatkan nilai ekonomi. Hal tersebut dikarenakan teripang pasir, terutama yang sudah diolah menjadi teripang kering memiliki nilai jual yang tinggi. Merujuk kepada Purcell (2014) peluang pasar teripang pasir sangat menjanjikan, harga jual akhir teripang pasir kering untuk konsumen berada pada kisaran yang relatif tinggi dengan rerata USD 300/kg dan bahkan mencapai USD 1.668/kg untuk kualitas premium. Berdasarkan informasi lama siklus budidaya dan data produksi, estimasi produktivitas dan pendapatan per tahun untuk lahan tambak seluas satu hektar dapat dihitung sebagaimana tercantum dalam tabel 2. Berdasarkan data tersebut, estimasi pendapatan budidaya terpadu sistem IMTA “TERBARU” lebih tinggi dibandingkan dengan budidaya monokultur yaitu sebesar 17,5% (monokultur teripang), 422,2% (monokultur bandeng), dan 879,2% (monokultur Gracilaria sp.). Secara teknis, penerapan budidaya terpadu sistem IMTA teripang pasir, bandeng dan rumput laut menyebabkan jumlah siklus budidaya bandeng dan rumput laut Gracilaria sp. dalam satu tahun berkurang. Hal ini disebabkan perbedaan waktu yang dieprlukan sejak tebar hingga mencapai ukuran panen. Budidaya teripang pasir membutuhkan waktu sekitar 6 bulan untuk mencapai ukuran panen (> 200 g/ekor) dengan syarat menggunakan benih siap tebar berukuran >50 g/ekor. Pola tanam budidaya terpadu sistem IMTA teripang pasir, bandeng dan rumput laut digambarkan dalam Gambar 2. Alih teknologi IMTA TERBARU telah dilaksanakan kepada beberapa stakeholder seperti Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Timur, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Barat dan beberapa kelompok pembudidaya tambak di Sekotong, Lombok Barat serta Jerowaru, Lombok Timur.

Gambar 1. Ekosistem tambak budidaya terpadu sistem IMTA teripang pasir, bandeng dan rumput laut

 

Tabel 2. Estimasi produktivitas dan nilai ekonomi budidaya terpadu sistem IMTA “TERBARU”

Perhitungan berdasarkan data produksi dan harga minimum; rumput laut kering Rp 4.000/kg; bandeng Rp 15.000/kg; teripang kering Rp 500.000/kg.  

Gambar 2. Time line budidaya terpadu sistem IMTA teripang pasir, bandeng dan rumput laut Gracilaria sp.