Produksi Benih Abalone

Posted on 22 Aug 2017


Abalon tropis yang berada di perairan Indonesia merupakan salah satu jenis gastropoda laut yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dengan harga mencapai Rp.300.000 – 500.000 per kilogram basah (Tubalawony et al., 2016). Telah teridentifikasi 100 jenis abalon yang ada di perairan di seluruh dunia, namun hanya sebagian kecil saja yang diperdagangkan di pasar internasional. Jenis abalon yang hidup di perairan tropis memiliki rata-rata ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan abalon yang hidup di perairan dengan 4 musim. Meskipun memiliki ukuran yang kecil, abalon tropis lebih disukai oleh konsumen yang berasal dari Asia, maka dari itu permintaan akanabalon tropis terus meningkat sepanjang tahunnya.

Abalon merupakan moluska bercangkang tunggal (univalve) yang berbentuk oval memanjang maupun oval, dengan warna kehijauan hingga coklat gelap. Abalon tropis rata-rata berukuran 50-200 mm dengan cangkang yang cukup tipis. Terdapat 5-7 lubang pada cangkangnya yang berfungsi sebagai saluran respirasi, ekskresi hasil metabolisme, maupun saluran keluarnya sel kelamin saat pemijahan. Sebagian besar dari tubuhnya merupakan otot kaki yang terdapat banyak tentakel di sekelilingnya. Otot kaki tersebut memiliki warna abu-abu hingga oranye yang mampu melekat kuat pada substrat.
Klasifikasi abalon tropis Linnaeus 1758 :
  • Kingdom         : Animalia
  • Phylum           : Mollusca
  • Class             : Gastropoda
  • Subclass          : Vetigastropoda
  • Superfamily    : Haliotoidea
  • Family            : Haliotidae
  • Genus             : Haliotis
(Sumber: World Register of Marine Species)
Habitat asli abalon di alam adalah perairan pantai berbatu karang dengan salinitas 31-36 ppt, maka dari itu abalon sangat jarang ditemukan di wilayah muara sungai yang memiliki salinitas yang lebih rendah. Abalon banyak ditemukan di sekitar karang dekat area pecahan ombak karena pada area tersebut tingkat oksigen terlarut dalam air sangat tinggi. Selain di area pecahan ombak, abalon juga sering ditemukan di wilayah yang banyak ditumbuhi oleh makro alga yang menjadi pakan alami biota tersebut. Abalon merupakan salah satu hewan yang aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal), baik pada pemeliharaan di sarana budidaya maupun di habitat aslinya. Saat siang hari, abalon bersembunyi dibalik batu, karang, maupun benda lain yang memberikan perlindungan terhadap cahaya matahari. Secara alami, abalon merupakan organisme yang memakan alga sebagai pakan utamanya yang terdiri dari alga merah, alga coklat, maupun alga hijau (Yu et al., 2014).Abalon mencari makan dengan caragrazing yaitu dengan menggigit bagian tubuh dari alga menggunakan mulutnya yang dilengkapi dengan radula yang berfungsi sebagai gigi. Radula tersebut menghancurkan makanan berupa alga kemudian diteruskan menuju saluran pencernaannya. Seperti layaknya abalon di perairan subtropis, abalon tropis juga merupakan hewan dioecious (organ kelamin jantan dan betina terpisah) yang melepaskan sel kelamin ke perairan dengan caramenyemprotkan sel kelaminnya (broadcastspawner)Pembuahan akan terjadi secara eksternal saat sel sperma bertemu dengan sel telur. Abalon jantan sangat mudah dibedakan dari betina dengan melihat warna dari organ kelamin yang berada dibawah cangkangnya. Individu jantan memiliki warna gonad putih kekuningan sedangkan individu betina memiliki warna hijau kebiruan. Pada habitat aslinya, abalon memijah hampir sepanjang tahun dan biasanya terjadi saat pasang tertinggi setiap bulannya(Jarayabhand P & Paphavasit N. 1996).


Gambar 2. Perbedaan abalon jantan (kiri) dan betina (kanan)
Setelah pembuahan terjadi, telur abalonakan menetas dalam waktu 5 jam setelah pembuahan, kemudian berkembang menjadi larva selama 4-5 hari. Larva akan melayang-layang di kolom air dan mendapatkan sumber energi dari kuning telur, namun saat berumur 5-8 hari larva akan berubah menjadi juvenil dan mencari tempat menempel untuk mencari makanan yang berupa mikro alga. (Singhagraiwan T & Sasaki M. 1991). Fase ini merupakan tahap yang paling kritis dalam siklus hidup abalon dimana hanya 1-3% dari seluruh larva yang berhasil untuk menempel pada substrat. Pada wadah budidaya, larva abalon mulai dapat diamati oleh mata saat berumur 17-20 hari yang ditandai dengan munculnya bintik-bintik berwarna merah atau coklat dalam wadah pemeliharaan