Produksi Benih Teripang Pasir

Posted on 22 Aug 2017


Teripang merupakan kelompok komoditas laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi, terutama untuk pasar ekspor. Indonesia telah dikenal sebagai salah satu produsen utama produk teripang kering dari hasil perikanan tangkap (Choo, 2008) dengan volume ekspor produk teripang Indonesia pada tahun 2012 adalah sebesar 905.233 kg dengan nilai US$ 4.613.120 (KKP, 2013). Teripang pasir (Holothuria scabra, Jaeger) merupakan salah satu jenis teripang yang dieksploitasi secara komersial. Spesies ini memiliki nilai ekonomis tinggi, volume perdagangan yang besar, dan relatif mudah ditemukan di perairan dangkal (Choo, 2008; Tuwo, 2004; Battaglene et al., 2002; Hair et al., 2011; Purcell, 2014). Harga jual akhir teripang pasir kering untuk konsumen berada pada kisaran yang relatif tinggi dengan rerata USD 300/kg dan bahkan mencapai USD 1.668/kg untuk kualitas premium. Praktek tangkap lebih tanpa disertai manajemen stok yang baik berdampak pada penurunan populasi di alam dan mendorong spesies ini digolongkan sebagai salah satu biota yang terancam (Conand, 2004; Conand et al., 2014). Kegiatan budidaya merupakan salah satu upaya untuk mengurangi eksploitasi populasi teripang pasir di alam. Berdasarkan pertimbangan berbagai aspek bioekonomi, jenis teripang ini berpeluang dibudidayakan secara ekstensif di daerah tropis melalui sistem sea ranching maupun budidaya tambak (Purcell et al., 2012). Penelitian budidaya teripang pasir ini di Indonesia antara lain telah dilakukan di Balai Bio Industri Laut, Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak tahun 2011, dan telah berhasil memproduksi benih secara massal. Pembenihan teripang pasir diawali dengan proses pemijahan induk, inkubasi telur, pemeliharaan larva fase planktonik, pemeliharaan larva fase penempelan, dan pemeliharaan anakan. Satu siklus pembenihan berlangsung selama 60 hari dengan hasil akhir berupa anakan berukuran < 1 g/ekor. Anakan selanjutnya perlu didederkan hingga mencapai ukuran yang dianggap cukup aman untuk restocking maupun pembesaran yaitu 10-20 g. Teknologi pendederan yang digunakan saat ini adalah pemeliharaan dalam gogona apung di tambak. Metode tersebut memberikan hasil yang cukup baik dimana ukuran 20-50 g dapat dicapai oleh juvenil awal ( <2 g) dalam waktu 2 bulan (Firdaus et al, 2017). Panti benih LIPI mampu menghasilkan 25.000 ekor anakan setiap tahun, dan telah dimanfaatkan oleh berbagai pemangku kepentingan.  Alih teknologi pembenihan komoditas ini juga telah dilaksanakan di Balai Benih Ikan Pantai Labuhan Haji, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Timur.