Penelitian Lobster Pasir

Posted on 22 Aug 2017


Lobster pasir yang memiliki nama ilmiah Panulirus homarus (Linnaeus, 1758) merupakan anggota dari suku Palinuridae yang umumnya dikenal dengan nama udang barong atau udang karang. Lobster pasir secara umum hidup di antara bebatuan di daerah pecahan ombak pada kedalaman 1 s.d. 5 meter dengan kondisi perairan yang jernih, meskipun kadang dapat ditemukan di perairan yang keruh. Lobster pasir yang bersifat nokturnal ini secara alami akan mencari makan pada malam hari berupa Krustasea kecil, Moluska, ikan kecil, makroalga, dan Polychaeta. Lobster pasir memiliki nilai jual yang cukup tinggi dimana harga jual ukuran benih (0,3 gram) sudah mencapai Rp 15.000,-/ekor sedangkan yang sudah dewasa dapat mencapai Rp 335.000,-/ekor dengan ukuran 300 gram/ekor. Penangkapan benih lobster yang mudah dan tidak terkendali dikhawatirkan menimbulkan kelebihan tangkap yang berpotensi terhadap kelestarian sumber daya lobster di alam. Pemerintah selanjutnya melindungi lobster pasir melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. 1 tahun 2015 yang membatasi ukuran tangkap dan melarang penangkapan lobster dalam kondisi bertelur. Upaya menjaga kelestarian lobster dapat dilakukan dengan menggunakan konsep berkelanjutan salah satunya melalui usaha budidaya. Lobster yang diperoleh tidak hanya dipelihara untuk kegiatan pembesaran, tetapi juga untuk kegiatan pembenihan sehingga dapat diperoleh benih lobster yang dapat digunakan untuk kegiatan pembesaran selanjutnya tanpa mengambil dari alam. Fokus kegiatan penelitian lobster pasir di Balai Bio Industri Laut (BBIL) LIPI di tahun 2015 berupa pembesaran lobster pasir melalui rekayasa wadah pakan dan rekayasa pakan. Tahun 2016 juga dilakukan penelitian pembesaran serta pemeliharaan induk dan pematangan gonad. Memasuki tahun 2017 dilakukan penelitian terkait pemeliharaan phyllosoma, yaitu fase larva dari lobster pasir, dimana fase larva ini membutuhkan waktu paling lama hingga 6 bulan untuk bermetamorfosis menjadi juvenil (anakan) atau benih lobster. Kegiatan pemeliharaannya sendiri dilakukan di darat pada bak beton dan bak fiber serta di laut pada keramba jaring apung. Sementara itu pakan yang diberikan menggunakan pakan alami berupa ikan rucah, ikan tongkol, kerang, dan cumi serta pakan buatan berupa pakan moist dan pakan pelet.