Penelitian Teripang Hitam

Posted on 22 Aug 2017



Teripang merupakan salah satu biota laut bernilai ekonomis yang dimanfaatkan sebagai alternatif menu makanan laut dan berperan sebagai salah satu sumber protein. Pada perkembangannya sumberdaya teripang digunakan sebagai komponen obat-obatan dan kosmetik. Tingginya permintaan teripang terutama di pasar Asia memicu menurunnya populasi teripang di alam, hal ini karena banyak nelayan menangkap teripang dari alam secara langsung dan terus menerus, selain itu pengambilan teripang muda menjadi salah satu penyebab terhambatnya proses regenerasi. Dalam sejarahnya, perikanan teripang adalah salah satu sumber mata pencaharian masyarakat pesisir. Untuk itu perlu adanya upaya untuk menjaga kelestarian populasi teripang. Kegiatan budidaya teripang merupakan salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut, terutama dalam hal eksploitasi berlebih di alam (Toral-Granda et al, 2008). Minimnya informasi mengenai cara budidaya yang benar, cara restocking, cara pemanenan dan paska panen mendorong pentingnya dilakukan kegiatan penelitian budidaya teripang.

Holothuria atra termasuk spesies yang dieksploitasi dan mempunyai nilai komersial walaupun rendah (Kinch et al, 2008 ; Choo, 2008) biasanya diekspor  dalam bentuk teripang kering (Kinch et al, 2008). Teripang H. atra dapat bereproduksi seksual dan aseksual (Chao, 1994 ; Conand, 1996 ; Uthicke et al, 2001). Reproduksi aseksual menghasilkan bagian anterior dan posterior yang akan tumbuh menjadi individu baru sedangkan reproduksi seksual menghasilkan larva yang akan berkembang menjadi anakan. Penelitian reproduksi H. atra secara aseksual telah berhasil dilakukan di BBIL LIPI pada tahun 2008. Kegiatan budidaya H. atra melalui metode reproduksi seksual diawali dengan pengumpulan induk matang gonad kemudian rangsang pijah dan pemijahan, pemeliharaan larva dan juvenil, pembesaran, panen dan paska panen. Hal yang perlu diperhatikan dalam memproduksi larva antara lain ketersediaan induk matang gonad, kondisi lingkungan (Chao, 1994), kualitas air (suhu, pH, salinitas) dan ketersediaan pakan (Laxminarayana, 2005).

Terganggunya keseimbangan populasi teripang di alam diakibatkan karena pengambilan teripang yang tidak terkendali, baik dari segi jumlah, umur maupun ukuran. Untuk mengantispasi menurunnya populasi teripang maka perlu dilakukan kegiatan budidaya teripang. Teknik reproduksi H. atra secara aseksual telah berhasil dikuasai. Dalam teknik tersebut satu individu teripang bisa menjadi dua atau tiga individu. Untuk memperoleh benih secara massal maka perlu dikuasai teknik budidaya H. atra dengan metode reproduksi seksual.

Teripang termasuk golongan hewan air laut tak bertulang belakang yang mampu menghasilkan metabolit sekunder dan mempunyai aktivitas biologi yang cukup penting (Nishikawa, 2015). Studi awal di bidang farmakologi pada ekstrak H. atra menunjukkan bahwa teripang jenis ini merupakan sumber potensial metabolit bioaktif yang dapat digunakan dalam industri farmasi,  selain itu mempunyai kandungan antioksidan yang efektif seperti anti-inflamasi, analgesik, antipiretik, dan aktivitas imunomodulator (Issac D et al, 2014) ; produk alami yang dapat meringankan toksisitas hepatorenal (Dakrory et al, 2015) dan juga mengandung senyawa bioaktif seperti  flavonoid, komponen fenolik, terpenoid, saponin, alkaloid dll (Dhinakaran & Lipton, 2014).

Teripang hitam di habitatnya

 

 

 

 

 

 

Kegiatan penelitian ini ditujukan untuk menemukan teknologi baku budidaya teripang Holothuria atra yang meliputi pengadaan dan pemeliharaan induk, pemijahan dan pemeliharaan larva. Agar penelitian dapat berjalan secara efisien dan terarah, maka akan dihindari duplikasi dengan cara memanfaatkan hasil dan pengalaman yang telah dicapai oleh para peneliti dari berbagai institusi.

Secara garis besar, kegiatan penelitian dibagi dalam beberapa tahap, yaitu:

  1. Pengamatan tingkah laku, habitat dan keberadaan induk di alam
  2. Penyediaan dan pemeliharaan induk
  3. Pemijahan dan pemeliharaan larva
  4. Penyediaan pakan alami larva

Pengamatan stok induk teripang hitam di alam

Perangsangan teripang hitam untuk bereproduksi secara seksual

sel telur hasil memijahkan teripang hitam


Penelitian Lobster Pasir

Posted on



Lobster pasir yang memiliki nama ilmiah Panulirus homarus (Linnaeus, 1758) merupakan anggota dari suku Palinuridae yang umumnya dikenal dengan nama udang barong atau udang karang. Lobster pasir secara umum hidup di antara bebatuan di daerah pecahan ombak pada kedalaman 1 s.d. 5 meter dengan kondisi perairan yang jernih, meskipun kadang dapat ditemukan di perairan yang keruh. Lobster pasir yang bersifat nokturnal ini secara alami akan mencari makan pada malam hari berupa Krustasea kecil, Moluska, ikan kecil, makroalga, dan Polychaeta.

Lobster pasir memiliki nilai jual yang cukup tinggi dimana harga jual ukuran benih (0,3 gram) sudah mencapai Rp 15.000,-/ekor sedangkan yang sudah dewasa dapat mencapai Rp 335.000,-/ekor dengan ukuran 300 gram/ekor. Penangkapan benih lobster yang mudah dan tidak terkendali dikhawatirkan menimbulkan kelebihan tangkap yang berpotensi terhadap kelestarian sumber daya lobster di alam. Pemerintah selanjutnya melindungi lobster pasir melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. 1 tahun 2015 yang membatasi ukuran tangkap dan melarang penangkapan lobster dalam kondisi bertelur.

Indukan yang sedang bertelur

Upaya menjaga kelestarian lobster dapat dilakukan dengan menggunakan konsep berkelanjutan salah satunya melalui usaha budidaya. Lobster yang diperoleh tidak hanya dipelihara untuk kegiatan pembesaran, tetapi juga untuk kegiatan pembenihan sehingga dapat diperoleh benih lobster yang dapat digunakan untuk kegiatan pembesaran selanjutnya tanpa mengambil dari alam.

Fokus kegiatan penelitian lobster pasir di Balai Bio Industri Laut (BBIL) LIPI di tahun 2015 berupa pembesaran lobster pasir melalui rekayasa wadah pakan dan rekayasa pakan. Tahun 2016 juga dilakukan penelitian pembesaran serta pemeliharaan induk dan pematangan gonad. Memasuki tahun 2017 dilakukan penelitian terkait pemeliharaan phyllosoma, yaitu fase larva dari lobster pasir, dimana fase larva ini membutuhkan waktu paling lama hingga 6 bulan untuk bermetamorfosis menjadi juvenil (anakan) atau benih lobster. Kegiatan pemeliharaannya sendiri dilakukan di darat pada bak beton dan bak fiber serta di laut pada keramba jaring apung. Sementara itu pakan yang diberikan menggunakan pakan alami berupa ikan rucah, ikan tongkol, kerang, dan cumi serta pakan buatan berupa pakan moist dan pakan pelet.

 

Induk Lobster Pasir

Larva lobster pasir

Anakan lobster pasir


Produksi Benih Teripang Pasir

Posted on



Teripang merupakan kelompok komoditas laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi, terutama untuk pasar ekspor. Indonesia telah dikenal sebagai salah satu produsen utama produk teripang kering dari hasil perikanan tangkap (Choo, 2008) dengan volume ekspor produk teripang Indonesia pada tahun 2012 adalah sebesar 905.233 kg dengan nilai US$ 4.613.120 (KKP, 2013). Teripang pasir (Holothuria scabra, Jaeger) merupakan salah satu jenis teripang yang dieksploitasi secara komersial. Spesies ini memiliki nilai ekonomis tinggi, volume perdagangan yang besar, dan relatif mudah ditemukan di perairan dangkal (Choo, 2008; Tuwo, 2004; Battaglene et al., 2002; Hair et al., 2011; Purcell, 2014). Harga jual akhir teripang pasir kering untuk konsumen berada pada kisaran yang relatif tinggi dengan rerata USD 300/kg dan bahkan mencapai USD 1.668/kg untuk kualitas premium.

Praktek tangkap lebih tanpa disertai manajemen stok yang baik berdampak pada penurunan populasi di alam dan mendorong spesies ini digolongkan sebagai salah satu biota yang terancam (Conand, 2004; Conand et al., 2014). Kegiatan budidaya merupakan salah satu upaya untuk mengurangi eksploitasi populasi teripang pasir di alam. Berdasarkan pertimbangan berbagai aspek bioekonomi, jenis teripang ini berpeluang dibudidayakan secara ekstensif di daerah tropis melalui sistem sea ranching maupun budidaya tambak (Purcell et al., 2012). Penelitian budidaya teripang pasir ini di Indonesia antara lain telah dilakukan di Balai Bio Industri Laut, Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak tahun 2011, dan telah berhasil memproduksi benih secara massal.

Pembenihan teripang pasir diawali dengan proses pemijahan induk, inkubasi telur, pemeliharaan larva fase planktonik, pemeliharaan larva fase penempelan, dan pemeliharaan anakan. Satu siklus pembenihan berlangsung selama 60 hari dengan hasil akhir berupa anakan berukuran < 1 g/ekor. Anakan selanjutnya perlu didederkan hingga mencapai ukuran yang dianggap cukup aman untuk restocking maupun pembesaran yaitu 10-20 g. Teknologi pendederan yang digunakan saat ini adalah pemeliharaan dalam gogona apung di tambak. Metode tersebut memberikan hasil yang cukup baik dimana ukuran 20-50 g dapat dicapai oleh juvenil awal ( <2 g) dalam waktu 2 bulan (Firdaus et al, 2017). Panti benih LIPI mampu menghasilkan 25.000 ekor anakan setiap tahun, dan telah dimanfaatkan oleh berbagai pemangku kepentingan.  Alih teknologi pembenihan komoditas ini juga telah dilaksanakan di Balai Benih Ikan Pantai Labuhan Haji, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Timur.


Produksi Benih Abalone

Posted on



Abalon tropis yang berada di perairan Indonesia merupakan salah satu jenis gastropoda laut yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dengan harga mencapai Rp.300.000 – 500.000 per kilogram basah (Tubalawony et al., 2016). Telah teridentifikasi 100 jenis abalon yang ada di perairan di seluruh dunia, namun hanya sebagian kecil saja yang diperdagangkan di pasar internasional. Jenis abalon yang hidup di perairan tropis memiliki rata-rata ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan abalon yang hidup di perairan dengan 4 musim. Meskipun memiliki ukuran yang kecil, abalon tropis lebih disukai oleh konsumen yang berasal dari Asia, maka dari itu permintaan akan abalon tropis terus meningkat sepanjang tahunnya.

Abalon merupakan moluska bercangkang tunggal (univalve) yang berbentuk oval memanjang maupun oval, dengan warna kehijauan hingga coklat gelap. Abalon tropis rata-rata berukuran 50-200 mm dengan cangkang yang cukup tipis. Terdapat 5-7 lubang pada cangkangnya yang berfungsi sebagai saluran respirasi, ekskresi hasil metabolisme, maupun saluran keluarnya sel kelamin saat pemijahan. Sebagian besar dari tubuhnya merupakan otot kaki yang terdapat banyak tentakel di sekelilingnya. Otot kaki tersebut memiliki warna abu-abu hingga oranye yang mampu melekat kuat pada substrat.

Klasifikasi abalon tropis Linnaeus 1758 :

  • Kingdom         : Animalia
  • Phylum           : Mollusca
  • Class             : Gastropoda
  • Subclass          : Vetigastropoda
  • Superfamily    : Haliotoidea
  • Family            : Haliotidae
  • Genus             : Haliotis

Abalon jenis Haliotis asinina

Habitat asli abalon di alam adalah perairan pantai berbatu karang dengan salinitas 31-36 ppt, maka dari itu abalon sangat jarang ditemukan di wilayah muara sungai yang memiliki salinitas yang lebih rendah. Abalon banyak ditemukan di sekitar karang dekat area pecahan ombak karena pada area tersebut tingkat oksigen terlarut dalam air sangat tinggi. Selain di area pecahan ombak, abalon juga sering ditemukan di wilayah yang banyak ditumbuhi oleh makro alga yang menjadi pakan alami biota tersebut. Abalon merupakan salah satu hewan yang aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal), baik pada pemeliharaan di sarana budidaya maupun di habitat aslinya. Saat siang hari, abalon bersembunyi dibalik batu, karang, maupun benda lain yang memberikan perlindungan terhadap cahaya matahari.

Secara alami, abalon merupakan organisme yang memakan alga sebagai pakan utamanya yang terdiri dari alga merah, alga coklat, maupun alga hijau (Yu et al., 2014).Abalon mencari makan dengan caragrazing yaitu dengan menggigit bagian tubuh dari alga menggunakan mulutnya yang dilengkapi dengan radula yang berfungsi sebagai gigi. Radula tersebut menghancurkan makanan berupa alga kemudian diteruskan menuju saluran pencernaannya.

Seperti layaknya abalon di perairan subtropis, abalon tropis juga merupakan hewan dioecious (organ kelamin jantan dan betina terpisah) yang melepaskan sel kelamin ke perairan dengan caramenyemprotkan sel kelaminnya (broadcastspawner)Pembuahan akan terjadi secara eksternal saat sel sperma bertemu dengan sel telur. Abalon jantan sangat mudah dibedakan dari betina dengan melihat warna dari organ kelamin yang berada dibawah cangkangnya. Individu jantan memiliki warna gonad putih kekuningan sedangkan individu betina memiliki warna hijau kebiruan. Pada habitat aslinya, abalon memijah hampir sepanjang tahun dan biasanya terjadi saat pasang tertinggi setiap bulannya(Jarayabhand P & Paphavasit N. 1996).

Setelah pembuahan terjadi, telur abalon akan menetas dalam waktu 5 jam setelah pembuahan, kemudian berkembang menjadi larva selama 4-5 hari. Larva akan melayang-layang di kolom air dan mendapatkan sumber energi dari kuning telur, namun saat berumur 5-8 hari larva akan berubah menjadi juvenil dan mencari tempat menempel untuk mencari makanan yang berupa mikro alga. (Singhagraiwan T & Sasaki M. 1991). Fase ini merupakan tahap yang paling kritis dalam siklus hidup abalon dimana hanya 1-3% dari seluruh larva yang berhasil untuk menempel pada substrat. Pada wadah budidaya, larva abalon mulai dapat diamati oleh mata saat berumur 17-20 hari yang ditandai dengan munculnya bintik-bintik berwarna merah atau coklat dalam wadah pemeliharaan.

Pembenihan Abalon

Pembenihan merupakan tahap awal dalam suatu proses budidaya. Ketersediaan benih dalam usaha budidaya abalon menjadi sangat penting mengingat keberadaan abalon di alam baik ukuran konsumsi maupun ukuran benih semakin sulit ditemukan. Maka dari itu diperlukan upaya pembenihan secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan benih dalam kegiatan budidaya.

Secara umum, proses pembenihan abalon dilakukan dalam beberapa tahap yaitu:

  1. Pemilihan dan pemeliharaan induk
  2. Persiapan pakan larva
  3. Pemijahan
  4. Pemeliharaan larva
  5. Pendederan benih

 

Ukuran induk abalon yang siap dipijahkan

Induk abalon yang matang gonad

Kultur pakan untuk larva abalon

Anakan abalon berumur 2 bulan

 


Produksi Benih Kerang Mutiara

Posted on



Budidaya kerang mutiara (Pinctada maxima) merupakan salah satu usaha yang cukup diandalkan dari sector perikanan Indonesia. Mutiara yang dihasilkan Indonesia, khususnya dari wilayah Nusa Tenggara Barat, berwarna keperakan hingga keemasan. Kondisi perairan & geografis pesisir Indonesia yang memiliki banyak teluk, cocok untuk lokasi kegiatan budidaya kerang mutiara. Kegiatan budidaya kerangmutiara memiliki 3 komponenutama yang harus diperhatikan, yaitu Pemijahan Induk & Perawatan Larva, Pembesaran Anakan, dan Produksi Mutiara. Budidaya kerangmutiara paling cepatmembutuhkan waktus ekitar 34 bulan untuk dapat memperoleh mutiara dari mulai pemijahan.

Masa perkembangbiakan kerang mutiara bersifat musiman. Di Nusa Tenggara Barat, musim perkembangbiakan berlangsung mulai dari bulan Agustus / September sampai dengan bulan Januari / Februari. Untuk menghasilkan benih, induk jantan dan betina dirangsang untuk mengeluarkan sel sperma dan telur agar terjadi fertilisasi eksternal. Telur yang telah dibuahi akan berdiferensiasi menjadi trocophore lalu menjadi larva bercangkang (veliger). Larva veliger akan berkembang menjadi larva yang mempunyai umbo dan menjadi pediveliger. Kemudian terjadi perubahanan atomi drastis pada pediveliger untuk menjadi benih kerang (spat) pada umur 21 – 23 hari. Spat akan melekatkan diri pada substrat dengan menggunakan byssus.

Tiga minggu setelah spat melekat pada substrat (lembaran kolektor), benih siap dipelihara di laut. Lembaran kolektor diikat pada bingkai persegi panjang yang disebut pocket. Untuk melindungi benih dari serangan predator, pocket tersebut dibungkus dengan kantong pembungkus. Kepadatan benih kerang berkisar antara 500 – 700 ekor per pocket. Pembersihan dan pengurangan kepadatan benih dilakukan secara periodik. Untuk mencapai ukuran yang dapat diisi dengan inti diperlukan waktu antara 16 – 20 bulan.

Setelah kerang berukuran kurang lebih 10 cm, inti (nucleus) dan potongan jaringan mantle dari kerang dimasukkan kedalam gonad (organ reproduksi) kerang mutiara. Potongan mantle akan tumbuh menutupi inti dan mulai melapisinya dengan lapisan mutiara. Kerang yang telah diisi dengan inti dipelihara di longline selama 18 – 24 bulan. Seekor kerang mutiara dapat digunakan untuk 2 periode produksi mutiara bulat. Selanjutnya kerang tersebut dapat di isi inti untuk produksi mutiara setengah bulat (half pearl).

Induk kerang mutiara siap pijah

Larva kerang mutiara

Anakan kerang mutiara

Proses pemeliharaan dan perawatan kerang mutiara di laut

Hasil kerajinan tangan berbahan dasar cangkang kerang mutiara


Restocking Siput Mata Bulan

Posted on



Siput mata bulan (Turbo chrysostomus) merupakan salah satu jenis gastropod yang dikenal di Indonesia dengan nama siput mata bulan. Nama internasional siput ini adalah yellow-mouth turban atau gold-mouth turban. Siput mata bulan umumnya dapat ditemukan pada habitat pantai berbatu dan karang. Biasanya hidup di daerah pasang surut dan sublitoral dangkal. Siput ini aktif pada malam hari dan berlindung dari pemangsa dengan menempelkan badannya pada selasela karang. Siput mata bulan tersebar secara merata di daerah Indo-Pasifik Barat.

Siput mata bulan (Turbo chrysostomus) dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani laut yang bergizi tinggi.  Di daerah Gunung kidul- Jogyakarta, Siput mata bulan telah diperjualbelikan dalam kemasan kaleng yang bertujuan untuk pemasaran jarak jauh dan lebih tahan lama. Selain itu, dibeberapa Negara di dunia cangkang/kulit siput mata bulan dimanfaatkan sebagai aksesoris atau perhiasan karena memiliki kilau lapisan mutiara (mother of pearl).

BBIL LIPI telah menguasai teknologi budidaya siput mata bulan mulai dari pemijahan hingga pembesaran.

Selain dijadikan sebagai hewan konsumsi, siput ini juga memiliki peranan penting dalam rantai makanan di suatu ekosistem. Akibat tekanan eksploitasi yang cukup besar menyebabkan keberadaan siput ini di habitat alaminya menjadi semakin sulit ditemukan. Maka dari itu BBIL LIPI pernah melakukan restocking ribuan benih siput mata bulan ke perairan sekitar Lombok Utara pada tahun 2014.

Kegiatan restocking siput mata bulan hasil budidaya Balai Bio Industri Laut telah dilakukan di tiga tempat yang berbeda pada tanggal 11 Maret 2014 di PerairanTeluk Kodek, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, NTB. Jumlah siput mata bulan yang direstocking adalah 8513 ekor, tanggal 20 maret 2014 di Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta sebanyak 2700 ekor dan di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta sebanyak 400 ekor pada tanggal 18 Juni 2014

Kegiatan restocking yang dilakukan di Teluk Kodek, Malaka bekerjasama dengan Kedeputian Bidang Jasa Ilmiah LIPI yang dihadiri oleh Kepala LIPI.


Kegiatan restocking siput mata bulan pada tahun 2014


Penerapan Teknologi IMTA

Posted on



Pengelolaan ekstensif tambak untuk budidaya bandeng dan rumput laut Gracilaria sp. merupakan praktek yang umum dijumpai di berbagai wilayah pesisir. Meskipun demikian, metode budidaya ekstensif cenderung menghasilkan produktivitas dan nilai ekonomi yang rendah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pengembangan budidaya terpadu (polikultur) berbasis Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA). Prinsip dari teknologi IMTA adalah memelihara beberapa komoditas dalam suatu sistem budidaya dengan memperhatikan tingkat trofik (Chopin et al., 2004; Chopin, 2006; Chopin et al., 2008). Penerapan teknologi budidaya terpadu berbasis IMTA telah dirintis oleh Balai Bio Industri Laut (BBIL), Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI dengan menggabungkan komoditas teripang pasir, bandeng dan rumput laut Gracilaria sp. (TERBARU) dalam sistem budidaya tambak (Firdaus et al., 2016).

Teknologi budidaya teripang pasir telah diteliti dan dikembangkan sejak tahun 2011 oleh BBIL, mencakup teknik pembenihan dan pembesaran. Meskipun teknologi tersebut telah dianggap siap, proses alih teknologi menghadapi kendala terutama karena teripang pasir tergolong komoditas baru bagi pembudidaya. Pengembangan teknologi budididaya IMTA merupakan jembatan dalam proses alih teknologi budidaya teripang mengingat pembudidaya umumnya telah menguasai teknologi budidaya bandeng dan rumput laut. Teknologi ini sekaligus merupakan inovasi dalam peningkatan produktivitas dan nilai ekonomi lahan tambak yang dikelola secara ekstensif. Pemasyarakatan teknologi budidaya TERBARU merupakan salah satu solusi dalam mengurai ketertinggalan pembangunan wilayah dan masyarakat kawasan pesisir.

Budidaya terpadu “TERBARU” dilaksanakan dengan mempertimbangkan posisi masing-masing biota dalam ekosistem budidaya. Rumput laut Gracilaria sp. berperan sebagai produsen yang menyerap nutrisi yang berasal dari perairan, pupuk, dan sisa metabolisme biota dalam tambak kemudian mengkonversinya menjadi biomassa melalui proses fotosintesis (Yang et al., 2015). Bandeng berperan sebagai konsumen (filter feeder) yang memakan partikel tersuspensi, fitoplankton, dan klekap (Watanabe et al., 2015). Teripang berperan sebagai pemakan detritus yang memanfaatkan bahan organik dalam tambak (Namukose et al., 2016) Melalui metode ini, daur nutrisi dalam sistem budidaya menjadi lebih efisien (Gambar 1), karena biaya pakan dan pengelolaan kualitas air dapat ditekan secara optimal yang akhirnya berdampak pada penurunan biaya produksi. Selain lebih ramah lingkungan, budidaya IMTA “TERBARU” juga memiliki produktivitas dan nilai ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan budidaya masing-masing komoditas secara monokultur. Introduksi teripang pasir sebagai komoditas baru dalam budidaya, secara langsung meningkatkan nilai ekonomi. Hal tersebut dikarenakan teripang pasir, terutama yang sudah diolah menjadi teripang kering memiliki nilai jual yang tinggi. Merujuk kepada Purcell (2014) peluang pasar teripang pasir sangat menjanjikan, harga jual akhir teripang pasir kering untuk konsumen berada pada kisaran yang relatif tinggi dengan rerata USD 300/kg dan bahkan mencapai USD 1.668/kg untuk kualitas premium.

Berdasarkan informasi lama siklus budidaya dan data produksi, estimasi produktivitas dan pendapatan per tahun untuk lahan tambak seluas satu hektar dapat dihitung sebagaimana tercantum dalam tabel 2. Berdasarkan data tersebut, estimasi pendapatan budidaya terpadu sistem IMTA “TERBARU” lebih tinggi dibandingkan dengan budidaya monokultur yaitu sebesar 17,5% (monokultur teripang), 422,2% (monokultur bandeng), dan 879,2% (monokultur Gracilaria sp.). Secara teknis, penerapan budidaya terpadu sistem IMTA teripang pasir, bandeng dan rumput laut menyebabkan jumlah siklus budidaya bandeng dan rumput laut Gracilaria sp. dalam satu tahun berkurang. Hal ini disebabkan perbedaan waktu yang dieprlukan sejak tebar hingga mencapai ukuran panen. Budidaya teripang pasir membutuhkan waktu sekitar 6 bulan untuk mencapai ukuran panen (> 200 g/ekor) dengan syarat menggunakan benih siap tebar berukuran >50 g/ekor. Pola tanam budidaya terpadu sistem IMTA teripang pasir, bandeng dan rumput laut digambarkan dalam Gambar 2.

Alih teknologi IMTA TERBARU telah dilaksanakan kepada beberapa stakeholder seperti Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Timur, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Barat dan beberapa kelompok pembudidaya tambak di Sekotong, Lombok Barat serta Jerowaru, Lombok Timur.

Gambar 1. Ekosistem tambak budidaya terpadu sistem IMTA teripang pasir, bandeng dan rumput laut.

Gambar 2. Time line budidaya terpadu sistem IMTA teripang pasir, bandeng dan rumput laut Gracilaria sp.

Tabel 2. Estimasi produktivitas dan nilai ekonomi budidaya terpadu sistem IMTA

No Sistem Produksi Lama budidaya /siklus Jumlah siklus /tahun Data Produksi /Ha Estimasi Produktivitas

/Ha/Tahun

Estimasi Pendapatan

/Tahun

1 Monokultur rumput laut Gracilariasp. 2 bulan Maksimum 6 siklus ·   5.000 kg/Ha

(basah) setara

500 kg/Ha

(Kering)

·   30.000 kg/Ha

(basah) setara

3.000 kg/Ha

(Kering)

Rp   12.000.000
2 Monokultur bandeng 4 bulan Maksimum 3 siklus ·   500 kg/Ha ·   1.500 kg/Ha Rp   22.500.000
3 Monokultur teripang pasir 6 bulan Maksimum 2 siklus ·   1.000 kg/Ha

(basah) setara

100 kg/Ha

(Kering)

·   2.000 kg/Ha

(basah) setara

200 kg/Ha

(Kering)

Rp 100.000.000
4 IMTA : teripang – bandeng – rumput laut Gracilaria sp. 6 bulan Maksimum 2 siklus ·   Teripang 100 kg/Ha (kering)

·   Bandeng

450 kg/Ha

·   Gracilaria 500 kg/Ha (Kering)

·   Teripang 200 kg/Ha (kering)

·   Bandeng

900 kg/Ha

·   Gracilaria 1.000 kg/Ha (Kering)

Rp 117.500.000

Keterangan:

Perhitungan berdasarkan data produksi dan harga minimum; rumput laut kering Rp 4.000/kg; bandeng Rp 15.000/kg; teripang kering Rp 500.000/kg.


Jenis-jenis baru kelomang, kepiting dan udang di perairan Lombok

Posted on 02 Oct 2018



Selain penelitian mengenai budidaya, Balai Bio Industri Laut juga melakukan penelitian tentang taksonomi krustasea (hewan bercangkan keras). Dalam kurun waktu hampir 1 dekade, telah ditemukan beberapa spesies baru yang berasal dari perairan Lombok, antara lain:

Kelomang

  • Clibanarius rubroviria Rahayu, 1999 ditemukan di pantai Kuta, Lombok Tengah

  • Diogenes takedai Rahayu, 2012, ditemukan di Kecinan, Pandanan, Sira, Lombok Utara

 

Kepiting

  • Indopinnixa kasijani ditemukan di Ekas, Lombok Timur

  • Indopinnixa moosai  ditemukan di Sira, Lombok Utara

  • Thecaplax capillosa adalah marga dan jenis baru dari suku Chasmocarcinidae, ditemukan di hampir semua pantai di Lombok Utara dan Lombok Barat. Hidup membenamkan diri di substrat berpasir didaerah padang lamun

  • Mariaplax aspera Ng & Rahayu, 2014, ditemukan di Sira

  • Hexapinus latus Rahayu & ng, 2014, ditemukan di Kecinan dan Sira Lombok Utara

  • Hexapinus simplex Rahayu & Ng, 2014, ditemukan di Ekas, Lombok Timur

  • Notonyx guinotae ditemukan di Sira, Kuta dan Sekotong

  • Notonyx castroi Rahayu & Ng, 2010 ditemukan di Kecinan, Teluk Kombal dan Sira

 

Udang

  • Salmoneus yoyo Anker, Firdaus & Pratama, 2014. Udang pistol ditemukan di Sekotong, Lombok Barat



Copyright © 2017